July 2nd, 2009

Hiraukan Saran-Saran Sesat Ini Saat Berburu Pekerjaan Baru

Hiraukan Saran-Saran Sesat Ini Saat Berburu Pekerjaan Baru

Posted on 02 Jul 2009 at 11:10am

Misi mencari kerja memang tak pernah ada akhirnya. Bahkan mereka yang sudah punya gaji stabil setiap bulan sekalipun masih saja tetap mencari peluang yang lebih baik. Tak menutup kemungkinan, hal yang sama tengah terjadi pada Anda saat ini. Begitu Anda menetapkan niat untuk memulai misi pencarian tersebut, bisa dipastikan berbagai saran dari teman, rekan kerja, kerabat, kekasih dan orangtua berdatangan. Tentu saja mereka memberikannya dengan maksud baik, namun tak semua imbauan tersebut masih berlaku. Bahkan beberapa di antaranya bisa mengancam tujuan Anda untuk mendapatkan posisi lebih tinggi atau pindah ke perusahaan lain. Apalagi banyak sekali aturan-aturan tak tertulis yang mulai dirangkul industri kerja belakangan ini. Bagaimana Anda bisa mengetahui apa saja yang perlu Anda dengar dan mana yang harus dibuang jauh-jauh? Lebih baik dimulai dengan menghiraukan beberapa anjuran sesat berikut ini supaya Anda bisa mulai melakukan yang sebaliknya.

Anda Harus: Fokuskan Pencarian di Internet
Industri kerja memang terkait erat dengan akses internet yang serba cepat. Hasil yang cepat pula yang membuat banyak pencari kerja lari ke situs lowongan kerja atau komunitas milis untuk menemukan peluang pekerjaan yang lebih baik. Sama sekali tidak salah, apalagi dengan maraknya situs jaringan kerja dan forum industri pekerjaan yang makin marak. Namun, yang perlu Anda sadari juga adalah jangan membatasi diri dan menjadikan internet sebagai satu-satunya jalan dalam pencarian Anda. Bahkan, satu cara paling efektif untuk mengetahui tersedianya peluang kerja dan meraih posisi baru yang potensial justru dari interaksi tatap muka. Jadi, ketimbang menyimpan semua telur Anda dalam satu keranjang (dalam hal ini internet), hadiri aneka job fair, konferensi yang berhubungan denganindustri kerja Anda juga acara networking yang rutin digelar. Jangan sampai lupa kalau banyak pekerjaan justru tersedia secara tersembunyi. Tak terhitung banyaknya kandidat yang direkrut secara internal atau berdasarkan informasi dari mulut ke mulut karena posisi yang ditawarkan jarang diinformasikan kepada publik.

Anda Harus: Menyanggupi Waktu Interview, Kapanpun Itu
Hati-hati, saran ini cukup menjebak. Anda memang ingin mengetahui kesempatan Anda untuk mendapatkan posisi yang tengah lowong tersebut, tapi bukan berarti Anda serta merta mengiyakan jadwal wawancara yang ditetapkan secara sepihak oleh pihak perekrut. Dengan kelewat bersemangat mengatakan, “Saya bisa datang kapan saja, lagipula atasan juga tak akan menyadari kalau saya pergi,” Anda justru mengisyaratkan bahwa Anda tidak terlalu berpengaruh di perusahaan yang sekarang. Lebih baik negosiasikan waktu yang terbaik buat kedua belah pihak. Disarankan, setelah jam kerja. Dengan begini, Anda secara tidak langsung menunjukkan bahwa Anda menghargai pekerjaan yang sekarang dengan tidak seenaknya meninggalkan tanggung jawab yang ada. Perekrut karyawan yang baik menyadari hal ini, dan mereka terbiasa mengadakan janji sebelum jam kerja atau justru setelahnya untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut. Namun bila memang sama sekali tak memungkinkan buat kedua belah pihak untuk bertemu di kedua waktu itu, mengambil cuti bisa jadi pilihan yang sangat bijak dan tidak merugikan pihak manapun.

Anda Harus: Mempromosikan Status “Available”
Layaknya setalah sudah tak punya ikatan emosional dengan kekasih, bukan ide yang baik untuk segera memberitahukan kepada dunia bahwa Anda sudah siap untuk mencari yang baru. Hal ini juga berlaku dalam mencari posisi di perusahaan lain yang lebih menjanjikan kesuksesan dalam karier. Ketimbang menunjukkan bahwa Anda siap direkrut, lebih baik pamerkan keahlian. Jika Anda seorang teknisi yang tengah mencari atasan baru misalnya, Anda bisa mempromosikan keahlian yang tidak lantang menyuarakan hasrat Anda untuk mendapatkannya. Anda bisa menjadi pembicara di berbagai ajang industri pekerjaan atau terlibat dalam panel. Anda juga bisa menunjukkan pengetahuan dengan meninggalkan komentar-komentar bermutu di situs industri kerja yang terpandang. Semua aksi tersebut juga menguntungkan perusahaan Anda yang sekarang, sehingga Anda tak perlu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Bersikap aktif dan mengembangkan profil profesional seperti ini bisa dipastikan Anda jadi tak perlu mengirim resume sama sekali. Justru Anda yang “diundang” untuk mengisi posisi lowong yang tersedia.

Anda Harus: Sudah Punya Mental Siap Keluar
Banyak yang bilang, agak susah untuk keluar dari perusahaan yang sudah Anda tempati selama bertahun-tahun akibat terjebak dalam zona nyaman. Sudah terbiasa dengan lingkungan kerja, bisa melakukan tugas yang dikerjakan dari hari ke hari sembari menutup mata dan paham betul akan karakter atasan. Wajar sekali bila merasa demikian, bahkan tak menutup kemungkinan niat mencari kerja lain jadi surut karenanya. Namun begitu niat ingin punya pekerjaan baru itu muncul dengan kuatnya, tak perlu juga untuk langsung bersikap tak sabar untuk segera keluar. Terlebih bila dorongan tersebut didasari oleh keputusan emosional. Waspadalah, keinginan kuat untuk mendapatkan pekerjaan yang baru seringkali membuat ketidakberesan di kantor paling kecil sekalipun menjadi masalah besar. Semua hal terasa sangat mengganggu buat Anda dan akhirnya minat terhadap tugas sehari-hari hilang tanpa jejak. Awas, sikap yang seperti ini justru bisa membawa Anda ke posisi rawan terhadap PHK!

By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia

Perkuat Posisi di Masa Sulit

Perkuat Posisi di Masa Sulit

Posted on 02 Jul 2009 at 11:00am

Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.

Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.

Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.

Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai “hikmah” dari sebuah musibah.

Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.

Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.

By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia


Fatal error: Call to undefined function popular_posts() in /home/idjobinf/public_html/wp-content/themes/redcarpet/archive.php on line 48